Langsung ke konten
Jumat, 2 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Kolom

Pancasila Bukan Sekadar Dihafal di Bibir

PUISI | JATIMSATUNEWS.COM: Kami hafal lima sila di luar kepala, lantang kami teriakkan tiap Senin pagi di lapangan, dada membusung, tangan terkepal, seolah

Monumen Pahlawan Revolusi

Monumen Pahlawan Revolusi

PUISI | JATIMSATUNEWS.COM:
Kami hafal lima sila di luar kepala,
lantang kami teriakkan tiap Senin pagi di lapangan,
dada membusung, tangan terkepal,
seolah kami paling Indonesia.

Namun usai upacara bubar,
di lorong kelas kami tertawa mengejek teman yang berbeda logat,
di grup chat kami merobek harga diri saudara dengan stiker dan kata,
jari-jari kami lebih tajam dari sembilu,
lebih cepat menghakimi daripada memahami.

Kami menyebut Ketuhanan Yang Maha Esa,
tapi kami lupa bertuhan dalam laku sehari-hari,
kami melafalkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,
tapi kami tega menindas yang lemah demi tawa sesaat.

Baca juga: Hari Kesaktian Pancasila 2026, LPKAN Indonesia Serukan Lawan Disintegrasi dan Soroti Pejabat Tak Lapor LHKPN

Baca juga: Proyek Kemanusiaan Internasional UPN “Veteran” Jawa Timur Tingkatkan Kapasitas Pekerja Migran Indonesia di Malaysia melalui Edukasi Ekonomi dan Hukum

Persatuan Indonesia kami baca,
namun kami bangga pada perpecahan,
kami kotakkan kawan berdasarkan suku dan agama.
Kerakyatan kami eja,
tapi musyawarah kami ganti dengan siapa paling keras bersuara.
Keadilan sosial kami hafal,
tapi kami diam saat teman tak bisa bayar SPP.

Wahai Pancasila,
ampunilah kami para penghafal yang lalai,
yang menjadikanmu mantra, bukan pedoman.
Hari ini, 1 Oktober ini,
turunlah dari dinding-dinding kelas yang berdebu,
berpindahlah dari teks buku ke detak jantung kami.
Jadilah jalan yang kami tempuh,
bukan sekadar bunyi yang kami ucap lalu kami lupakan.

*Lima Cahaya untuk Indonesia yang Retak*

Dengarlah,
Indonesia sedang menangis dalam sunyi,
bukan karena gempa atau banjir semata,
tapi karena anak-anaknya saling melukai dengan kata.

Iklan

Kita retak,
retak oleh hoaks yang disebar tanpa tabayyun,
retak oleh ujaran kebencian yang dibungkus ayat,
retak oleh tawa yang merendahkan suku lain,
retak… hampir patah.

Namun di tengah gelap itu,
kulihat lima cahaya perlahan menyala dari timur:

Cahaya pertama berbisik: _ingatlah Tuhanmu,_
maka berhentilah menuhankan ego dan emosi.
Cahaya kedua merangkul: _manusiakanlah manusia,_
tak peduli apa warna kulit dan bahasanya.
Cahaya ketiga menyulam: _rajut kembali yang koyak,_
sebab kita satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.
Cahaya keempat menuntun: _duduklah, bermusyawarahlah,_
bukan siapa paling lantang, tapi siapa paling bijak.
Cahaya kelima menuntut: _berlaku adillah,_
agar tak ada anak bangsa yang tertinggal dalam lapar dan bodoh.

Wahai retak, janganlah takut,
wahai luka, janganlah putus asa,
selama lima cahaya itu masih kita jaga dengan nyala doa dan laku,
Indonesia takkan tenggelam.
Ia hanya sedang ditempa,
agar kelak bersinar lebih terang dari sebelumnya.

*Surat untuk Para Pahlawan Revolusi*

Wahai engkau yang terbaring sunyi di Lubang Buaya,
Jenderal Ahmad Yani dan para syuhada bangsa,
dengarkah langkah sepatu kami pagi ini?
Satu Oktober, kami berdiri tegap di bawah merah putih,
kepala menunduk, air mata tertahan,
mengenang malam berdarah itu,
ketika kalian diculik dari rumah,
demi mempertahankan Pancasila agar tetap sakti.

Kalian pergi di usia yang masih menyala,
meninggalkan anak dan istri yang menanti di beranda,
kalian memilih mati berdiri,
daripada hidup berlutut pada pengkhianat negeri.

Kini, enam puluh satu tahun telah berlalu,
izinkan kami bertanya dengan jujur dan malu:
masih pantaskah kami disebut pewaris kalian?
Kami yang ribut soal berbeda pilihan,
kami yang mudah diadu domba oleh potongan video,
kami yang kadang malu berbahasa Indonesia,
kami yang lebih hafal lagu asing daripada lagu perjuangan.

Jenderal, maafkan kami.
Maafkan generasi yang kadang lupa cara mencintai negeri tanpa pamrih sepertimu.

Maka hari ini, di bawah langit Oktober yang biru,
di hadapan nisanmu yang sunyi,
kami bersumpah bukan sekadar dengan kata:
kami akan menjaga persatuan ini dari perpecahan,
kami akan merawat Pancasila ini dari kelalaian,
kami akan mengisinya dengan ilmu yang bermanfaat,
dengan akhlak yang memikat,
dengan cinta yang merawat.

Tidurlah dengan tenang, wahai pahlawan,
perjuanganmu takkan sia-sia,
sebab di dada kami,
api kesaktian itu masih menyala.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.