Langsung ke konten
Selasa, 29 September 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Estafet Khidmat Di Tanah Babat: Umi Nur Faridah Nahkodai PC Fatayat NU Babat Menuju Lima Tahun Perjuangan Berkemajuan

LAMONGAN| JATIMSATUNEWS.COM : Pada Ahad, 27 September 2026, Aula Ar-Roudhoh MWCNU Maduran, Lamongan, tidak seperti biasanya. Jika hari-hari biasa aula itu hanya menjadi saksi bisu pengajian rutin, kali ini ia bergemuruh. Riuh shalawat, pekik yel-yel Fatayat, dan semangat berkhidmat ratusan kader perempuan muda Nahdlatul Ulama tumpah ruah menjadi satu energi.

Di tempat inilah, tongkat estafet perjuangan Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama Babat resmi berpindah tangan. Sebuah momen sakral, bukan sekadar seremoni pergantian nama ketua, melainkan penanda regenerasi ide, gagasan, dan semangat juang perempuan muda NU.Ketua PC Fatayat NU Babat demisioner, Hj. Uswatun Hasanah, M.Pd., dengan mata berkaca-kaca namun penuh keikhlasan, menyerahkan map berisi dokumen amanah dan bendera pataka organisasi kepada ketua terpilih, Sahabat Hj. Umi Nur Faridah,S.Pd. Tepuk tangan panjang mengiringi. Simbol bahwa api perjuangan tidak pernah padam, hanya berganti penjaganya.

Hadir dalam momentum bersejarah ini jajaran Forkopimda, Wakil Bupati Lamongan Dirham Akbar Aksara, S.T., B.Eng.,M.Sc., Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur Sahabat Siti Maulidah.,M.Pd., jajaran MWCNU Maduran dan Babat, Banom NU, serta ratusan kader dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Cabang Babat.

Pidato perdana Umi Nur Faridah menjadi magnet utama. Dengan suara bergetar menahan haru, ia tidak berbicara tentang kekuasaan, melainkan tentang tanggung jawab.Ia mengingatkan, bahwa jas hijau yang kini melekat di tubuh setiap kader bukanlah sekadar seragam. Jas itu adalah identitas, adalah marwah, adalah beban sejarah panjang perjuangan ulama perempuan.

“Saat kita sudah memakai jas hijau kebanggaan kita, maka kita tidak lagi membawa nama pribadi, melainkan mengemban nama besar Fatayat. Kita membawa nama ulama, membawa nama NU. Maka jaga marwah organisasi tetap santun, guyub rukun, dan solutif serta penuhilah amanah ini dengan sepenuh jiwa,” tegas Umi di hadapan ratusan kader yang menyimak dalam diam yang khusyuk.Kalimat itu menjadi penekanan penting. Di era media sosial yang serba terbuka, di mana gesekan dan perbedaan pendapat mudah menjadi konsumsi publik, Umi meminta kader Fatayat untuk tetap menjadi teladan. Santun dalam tutur, guyub dalam gerak, dan solutif dalam menjawab masalah umat.

Agar roda organisasi tidak berjalan pincang, Umi tidak menawarkan jargon yang rumit. Ia menyuntikkan tiga fondasi utama yang ia sebut sebagai Kunci G-K-T, sebuah rumus sederhana yang mudah diingat namun dalam maknanya.Pertama, Kunci G adalah Guyub. Menurutnya, Fatayat tidak boleh tercerai-berai karena ego sektoral. Guyub berarti saling merangkul, saling sapa, antara PC dengan PAC, antara senior dengan junior. Tidak ada kasta dalam berkhidmat.

Kedua, Kunci K adalah Kompak. Guyub saja tidak cukup tanpa kekompakan barisan. Jika sudah guyub, maka semua program harus dikerjakan secara kompak, satu komando, satu tujuan. Tidak jalan sendiri-sendiri.

Iklan

Ketiga, Kunci T adalah Tuntas. Ini yang paling ditekankan. Banyak organisasi besar dalam program, tetapi lemah dalam eksekusi. Umi mewanti-wanti agar setiap program yang dicanangkan harus tuntas sampai ke akar rumput, sampai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat paling bawah. “Guyub, Kompak, Tuntas. Jika tiga ini kita pegang, InsyaAllah Fatayat Babat akan menjadi organisasi yang solid, bukan hanya besar di struktur, tapi besar manfaatnya,” tambahnya.

Tiga kunci itu kemudian diterjemahkan ke dalam empat pilar program strategis untuk masa khidmat 2026-2031. Pilar ini disusun bukan dari ruang hampa, melainkan dari pembacaan atas kebutuhan nyata perempuan di Babat dan sekitarnya.Pilar Pertama adalah Penguatan Kaderisasi dan Tertib Organisasi. Umi menilai, kaderisasi adalah jantung organisasi. Tanpa kaderisasi yang sistematis, Fatayat akan kehilangan generasi penerus. Penertiban administrasi, database kader, dan jenjang kaderisasi formal akan menjadi prioritas utama.

Pilar Kedua adalah Pemberdayaan Ekonomi. Fatayat tidak boleh hanya mengandalkan proposal dan bantuan. Kemandirian finansial harus dibangun. Melalui pelatihan UMKM, koperasi Fatayat, dan pemanfaatan produk lokal, kader didorong untuk berdaya secara ekonomi. Perempuan yang berdaya secara ekonomi akan lebih percaya diri dalam berorganisasi.

Pilar Ketiga adalah Dakwah Digital dan Sosio Lingkungan. Umi menyadari medan dakwah hari ini telah bergeser. Ruang siber adalah medan jihad baru. Fatayat harus hadir di TikTok, Instagram, dan media sosial lainnya dengan konten-konten yang mencerahkan, moderat, dan ramah. Di sisi lain, kepekaan sosial dan lingkungan seperti pendampingan korban kekerasan, isu stunting, dan kebersihan lingkungan juga menjadi fokus.Pilar Keempat adalah Fokus Kesehatan Keluarga. Ini adalah program yang sangat menyentuh akar. Umi percaya, ketahanan sebuah bangsa dimulai dari ketahanan keluarga, dan ketahanan keluarga dimulai dari ibu yang sehat. Edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, dan posyandu akan digalakkan kembali.

Langkah masif ini mendapat sambutan hangat dari pemerintah daerah. Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar Aksara, yang hadir sebagai tamu kehormatan, dalam sambutannya menyebut Fatayat NU Babat sebagai mitra strategis yang tidak bisa dipandang sebelah mata.”Fatayat NU adalah motor penggerak perempuan muda yang sangat strategis dalam menopang program pemerintah di sektor sosial, pendidikan, serta pemberdayaan keluarga. Mari kita jalin sinergi yang lebih erat untuk lima tahun ke depan. Pemerintah Kabupaten Lamongan membuka pintu selebar-lebarnya untuk kolaborasi,” ujar Dirham.

Iklan

Sementara itu, Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur, Sahabat Siti Maulidah.,M.Pd., memberikan arahan yang lebih visioner. Ia menekankan pentingnya prinsip akuntabilitas, transparansi, serta mengamalkan Sittah Himmah PW Fatayat NU Jatim sebagai kompas gerakan.Yang paling menarik, Maulidah menantang kader Fatayat untuk naik kelas. Di era banjir informasi, kader Fatayat tidak boleh hanya menjadi konsumen pasif yang meng-scroll media sosial. Kader harus menjadi produsen pengetahuan.

“Kader Fatayat harus mampu berdiri sebagai produsen pengetahuan, bukan sekadar penikmat dan pengonsumsi media sosial. Tulis, buat video edukasi, isi ruang digital dengan narasi-narasi ke-NU-an yang damai. Optimalkan pula program Desa Sahabat Perempuan dan Anak sebagai benteng perlindungan perempuan dan anak di desa,” cetusnya, yang disambut tepuk tangan antusias.

Menjelang siang, acara pelantikan yang berlangsung sejak pagi itu ditutup dengan doa yang dipimpin oleh jajaran Syuriyah MWCNU. Semua tangan menengadah. Di akhir acara, Umi Nur Faridah kembali mengambil mikrofon, menutup prosesi dengan sebuah harapan yang menjadi doa bersama.”Semoga dari rahim perjuangan di Fatayat ini, kita semua mampu menjelma menjadi khairunnisa perempuan-perempuan terbaik yang berdaya, kaya manfaat, dan membawa maslahat seluas-luasnya bagi segenap umat. Bukan untuk nama kita, tapi untuk NU, untuk bangsa,” pungkasnya.Optimisme. Dari Aula Ar-Roudhoh Maduran, estafet itu kini resmi berpindah. Tugas Umi dan jajarannya untuk lima tahun ke depan tidak ringan, namun dengan bekal guyub, kompak, dan tuntas, jalan itu tampak lebih terang.

Foto profil Miftachul Amin
Miftachul Amin

Saya adalah pejuang informasi Siap menyampaikan berita fakta tanpa dusta

Lihat semua artikel oleh Miftachul Amin

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.