Langsung ke konten
Senin, 28 September 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

FTIK UIN Malang dan Universiti Malaya Bedah Kitab Klasik hingga Posisi Guru di Era AI

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Mahasiswa FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Universiti Malaya, Malaysia, membahas relevansi kitab klasik hingga posisi guru di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam agenda Indonesian–Malaysia Student Academic Dialogue, Kamis (24/9/2026). Diskusi akademik tersebut digelar paralel di dua ruang dengan mengangkat isu keislaman dan kependidikan.

Sesi pertama berlangsung di Gedung A Ruang 105 dengan topik Qira’atul Kutub yang dipandu Rasmuin, M.Pd.I. Peserta mendiskusikan pengkajian teks dan kitab klasik sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam, sekaligus membahas relevansinya dalam konteks akademik dan kehidupan pendidikan masa kini.

Pembahasan diarahkan pada bagaimana literasi keagamaan berbasis kitab turats tetap dapat dipertahankan di tengah perkembangan keilmuan modern. Pertukaran pandangan antara mahasiswa kedua perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam melihat tradisi keilmuan Islam dari perspektif lintas negara.

Sementara itu, sesi kedua berlangsung di Meeting Room Megawati Lantai 2 dengan mengangkat tema “Peran Guru yang Tak Tergantikan” dan dipandu Faridatun Nikmah, M.Pd. Diskusi menyoroti posisi guru di tengah perkembangan teknologi digital dan AI.

Dalam diskusi tersebut, guru ditempatkan bukan semata sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pendidik yang memiliki peran dalam pembentukan karakter, pemberian empati, dan penanaman nilai serta etika. Teknologi dan AI dibahas sebagai instrumen yang dapat mendukung proses pendidikan, sementara relasi pedagogis antara guru dan peserta didik tetap menjadi bagian penting dalam pembelajaran.

Pembahasan kemudian berkembang pada perbandingan kondisi profesi guru di Indonesia dan Malaysia. Delegasi Universiti Malaya turut memaparkan posisi profesi guru di Malaysia, termasuk kebijakan kesejahteraan bagi pendidik yang ditempatkan di wilayah terpencil.

Iklan

Dalam pemaparan tersebut disebutkan bahwa guru yang bertugas di wilayah yang semakin jauh atau terpencil memperoleh tunjangan dan penghasilan yang lebih tinggi sebagai bentuk penghargaan atas penempatan dan dedikasi mereka.

Perbandingan tersebut memancing diskusi mahasiswa dari kedua perguruan tinggi. Peserta bertukar pandangan mengenai kebijakan pendidikan, kesejahteraan guru, perkembangan teknologi, hingga tantangan yang akan dihadapi calon pendidik Muslim.

Agenda Indonesian–Malaysia Student Academic Dialogue menjadi bagian dari rangkaian kunjungan akademik Universiti Malaya ke FTIK UIN Malang. Selain mempertemukan mahasiswa dalam forum ilmiah, kegiatan tersebut membuka ruang pertukaran perspektif mengenai tradisi keilmuan Islam dan perkembangan pendidikan di kedua negara.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.