OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Terjebak Skripsi dan TikTok: Ketika Mahasiswa Mulai Cemas Menatap Masa Depan oleh Dr.H.Miftahul Huda, M.H (Dosen Fakultas Syariah UIN Malang)
Memasuki semester enam ke atas, kehidupan mahasiswa mulai terasa berbeda. Jika pada semester-semester awal yang dipikirkan hanya tugas kuliah, ujian, dan nilai, maka ketika memasuki semester akhir, pertanyaan yang muncul semakin serius: kapan lulus, skripsi mau mengambil tema apa, setelah lulus mau bekerja di mana, dan sebenarnya saya mampu atau tidak?
Pertanyaan-pertanyaan itu semakin sering muncul ketika melihat teman seangkatan mulai seminar proposal, sidang skripsi, wisuda, mendapatkan pekerjaan, memperoleh beasiswa, atau membangun usaha sendiri. Sementara diri sendiri masih berkutat dengan judul penelitian, revisi, atau bahkan belum menemukan keberanian untuk memulai.
Di tengah situasi itu, media sosial membuat perbandingan menjadi semakin mudah. Cukup membuka TikTok, Instagram kita dapat melihat pencapaian orang lain hanya dalam hitungan detik. Ada yang baru lulus langsung mendapatkan pekerjaan, ada yang kuliah di luar negeri, ada yang sudah memiliki bisnis, bahkan ada yang tampak telah memiliki kehidupan yang mapan di usia muda.
Lalu muncul pertanyaan dalam hati: “Mengapa saya belum seperti mereka?”
Padahal, yang sering kita bandingkan adalah proses panjang hidup kita dengan potongan keberhasilan orang lain.
Ketika Skripsi Terasa Lebih Berat dari Semestinya
Skripsi sebenarnya bukan sekadar tugas akhir untuk mendapatkan gelar. Ia merupakan bagian dari proses belajar mahasiswa untuk menemukan masalah, membaca berbagai perspektif, melakukan penelitian, menyusun argumentasi, dan mempertanggungjawabkan hasil pemikirannya.
Namun, ketika tekanan untuk segera lulus semakin besar, skripsi dapat berubah menjadi sumber kecemasan.
Judul belum disetujui, merasa tertinggal.
Revisi belum selesai, merasa tidak mampu.
Teman sudah sidang, merasa gagal.
Teman sudah bekerja, semakin khawatir dengan masa depan.
Tidak jarang mahasiswa akhirnya bukan tidak mampu mengerjakan skripsi, tetapi terlalu banyak memikirkan kemungkinan buruk sebelum benar-benar mengerjakannya.
Padahal, pekerjaan besar hampir selalu terasa berat ketika dilihat sebagai satu kesatuan.
Cobalah mengubah cara pandang. Jangan bertanya setiap hari, “Kapan skripsi saya selesai?”
Tanyakan, “Apa yang bisa saya selesaikan hari ini?”
Satu halaman yang ditulis adalah kemajuan. Satu jurnal yang dibaca adalah kemajuan. Satu kali konsultasi dengan dosen adalah kemajuan. Bahkan keberanian membuka kembali dokumen skripsi setelah berhari-hari menghindar juga merupakan sebuah langkah.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5-6)
Ayat tersebut bukan berarti setiap kesulitan akan hilang tanpa usaha. Justru ia mengajarkan optimisme bahwa kesulitan tidak berdiri sendirian. Di tengah kesulitan selalu ada ruang untuk mencari jalan, belajar, bertumbuh, dan menemukan kemudahan.
Bagi mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir, pesan itu terasa dekat. Mungkin hari ini belum menemukan jawaban, tetapi bukan berarti tidak akan pernah menemukan jalan keluar.
Jangan Biarkan Media Sosial Menentukan Nilai Diri
Media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang harus dijauhi sepenuhnya. Di tangan mahasiswa, media sosial dapat menjadi sumber pengetahuan, informasi beasiswa, peluang pekerjaan, jejaring profesional, hingga ruang untuk membangun portofolio.
Yang perlu dikendalikan adalah kebiasaan membandingkan diri.
Ketika melihat teman berhasil, kita sering lupa bahwa yang terlihat hanyalah hasil akhirnya. Kita tidak melihat berapa kali ia gagal, berapa malam ia belajar, berapa banyak lamaran pekerjaan yang ditolak, atau berapa kali ia merasa ingin menyerah.
Media sosial menampilkan etalase kehidupan, bukan seluruh ceritanya.
Karena itu, ketika melihat keberhasilan orang lain, tidak selalu harus bertanya, “Mengapa saya belum?”
Barangkali pertanyaan yang lebih sehat adalah, “Apa yang bisa saya pelajari dari perjalanan mereka?”
Dengan begitu, keberhasilan orang lain tidak menjadi sumber rasa rendah diri, tetapi dapat menjadi sumber inspirasi.
Masa Depan Tidak Harus Selesai Dipikirkan Hari Ini
Mahasiswa semester akhir sering merasa harus segera memiliki jawaban untuk seluruh kehidupannya. Setelah lulus mau bekerja di mana? Mau melanjutkan kuliah atau bekerja? Mau menjadi apa lima tahun ke depan?
Pertanyaan tersebut penting, tetapi tidak semuanya harus terjawab sekaligus.
Tidak sedikit orang menemukan jalan hidupnya justru setelah lulus kuliah. Ada yang bekerja sesuai jurusan, ada yang berpindah bidang, ada yang melanjutkan pendidikan, dan ada pula yang membangun usaha setelah mencoba berbagai pekerjaan.
Hidup tidak selalu berjalan dalam garis lurus.
Karena itu, mahasiswa tidak perlu merasa gagal hanya karena jalannya berbeda dari teman-temannya. Setiap orang memiliki waktu dan proses masing-masing.
Al-Qur’an juga memberikan prinsip penting tentang perubahan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini dapat menjadi pengingat bahwa masa depan bukan sesuatu yang hanya ditunggu. Ada ikhtiar yang harus dilakukan.
Jika ingin skripsi selesai, mulailah menulis.
Jika ingin memiliki pekerjaan, mulailah membangun keterampilan dan mencari peluang. Jika ingin memiliki masa depan yang lebih baik, mulailah memperbaiki diri dari sekarang.
Tidak harus langsung melakukan sesuatu yang besar.
Berjalan Pelan Bukan Berarti Tertinggal
Barangkali persoalan terbesar mahasiswa hari ini bukan kurangnya peluang, melainkan terlalu banyak melihat perjalanan orang lain hingga lupa menjalani perjalanan sendiri.
Kita melihat teman sudah wisuda, lalu merasa terlambat. Kita melihat orang lain sudah bekerja, lalu merasa gagal. Kita melihat seseorang sukses di usia muda, lalu menganggap hidup kita tidak memiliki arah.
Padahal, setiap orang sedang menulis cerita yang berbeda.
Mahasiswa semester enam yang masih mencari topik skripsi tidak otomatis gagal. Mahasiswa semester tujuh yang masih melakukan revisi bukan berarti tidak mampu. Mahasiswa semester delapan yang belum mendapatkan pekerjaan juga bukan berarti masa depannya suram.
Yang penting adalah tetap bergerak.
Jika hari ini hanya mampu membaca satu jurnal, bacalah. Jika hanya mampu menulis satu halaman, tulislah. Jika belum berani menghubungi dosen pembimbing, kumpulkan keberanian dan lakukan. Jika belum tahu akan bekerja di mana setelah lulus, mulai kenali kemampuan dan minat diri.
Sebab, masa depan yang besar sering kali dibangun dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Tidak Harus Menjadi yang Paling Cepat
Kuliah bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat lulus, paling cepat mendapatkan pekerjaan, atau paling cepat terlihat sukses di media sosial. Setiap mahasiswa memiliki perjalanan, kemampuan, dan waktunya masing-masing.
Perguruan tinggi bukan hanya tempat mengejar nilai dan gelar. Ia juga menjadi ruang untuk bertumbuh belajar tentang kesabaran ketika penelitian tidak berjalan sesuai rencana, belajar menerima kegagalan, bertanggung jawab atas pilihan, berani mengambil keputusan, dan menemukan kekuatan untuk bangkit ketika keadaan tidak sesuai harapan.
Jika hari ini Anda sedang berada di semester enam, tujuh, delapan, atau bahkan lebih dan mulai merasa tertinggal, tidak ada salahnya berhenti sejenak untuk menarik napas. Barangkali yang Anda perlukan bukan membandingkan diri dengan mereka yang sudah lebih dahulu sampai, tetapi melihat kembali sejauh mana Anda telah berjalan.
Anda tidak harus memiliki seluruh jawaban tentang masa depan hari ini. Selesaikan apa yang ada di depan mata. Kerjakan tugas akhir sedikit demi sedikit. Temui dosen pembimbing. Baca satu jurnal. Perbaiki satu halaman. Bangun keterampilan. Perluas pertemanan. Gunakan media sosial dengan lebih bijak. Dan, tentu saja, jangan berhenti berdoa dan berikhtiar.
Sebab, perjalanan menuju masa depan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan tentang kesediaan untuk terus berjalan meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah.
Tidak apa-apa berjalan pelan. Yang penting, jangan berhenti.
Bisa jadi, beberapa tahun dari sekarang, ketika menoleh ke belakang, kita justru akan menyadari bahwa masa-masa yang dahulu terasa paling berat skripsi, revisi, kebingungan menentukan arah, penolakan pekerjaan, hingga ketidakpastian tentang masa depan adalah bagian penting dari perjalanan yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat.
Masa depan memang belum terlihat. Namun, justru karena belum terlihat, masih terbuka begitu banyak kemungkinan yang dapat diperjuangkan.
Ingatlah satu hal: Anda tidak terlambat. Anda sedang berada dalam proses. Jika hari ini terasa sulit, jangan mundur, Justru di titik itulah kisah terbaik dalam hidupmu sedang dimulai.(Editor: YAN)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.