BOJONEGORO | JATIMSATUNEWS.COM: Kendala keterbatasan alat produksi yang kerap membayangi perajin kain ramah lingkungan berhasil dijawab oleh kreativitas mahasiswa. Berangkat dari persoalan kapasitas dandang konvensional yang minim, Kelompok 24 Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) berinisiatif merancang dan menghibahkan mesin pengukus kain ecoprint portable bagi UMKM Chandini Collection di Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Inovasi teknologi tepat guna yang digagas oleh tim pimpinan Taufik Fajar Pramudya tersebut sengaja difokuskan untuk mengatasi permasalahan distribusi panas yang tidak merata dan waktu pengukusan yang lama, faktor yang selama ini kerap membuat motif dan ketajaman warna alami daun menjadi kurang konsisten.
Taufik menjelaskan bahwa rancang bangun mesin pengukus ini disesuaikan secara khusus dengan alur kerja perajin. Berdimensi 100 cm x 40 cm x 45 cm, alat ini mampu menampung gulungan kain dalam jumlah jauh lebih banyak dalam sekali proses.
“Mesin ini sengaja kami lengkapi termometer pengukur suhu agar proses pemanasan terpantau presisi, roda kastor agar mudah dipindahkan di area produksi, saluran keran untuk menguras air sisa uap secara praktis, serta batang besi khusus penggulung kain ecoprint,” tutur Taufik menerangkan keunggulan alat ciptaan kelompoknya.
Penerapan mesin pengukus portable ini langsung dirasakan dampaknya secara signifikan oleh mitra.
Waktu perebusan dan penguapan yang sebelumnya memakan durasi hingga tiga jam, kini berhasil dipangkas menjadi sekitar dua jam saja dengan kematangan warna daun yang jauh lebih merata ke seluruh serat kain.
Pemilik UMKM Chandini Collection, Sari Wulandari, menyambut gembira kehadiran inovasi dari mahasiswa kampus biru tersebut. Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena kapasitas produksinya melonjak drastis sehingga mampu melayani permintaan pasar yang kian ramai.
“Mesin pengukus portable ini sangat membantu produksi kami karena waktu pengukusan jadi jauh lebih singkat dibanding alat dandang lama. Kami bisa memproses lebih banyak kain sekaligus, pesanan pelanggan pun dapat terpenuhi lebih cepat dan tepat waktu,” ujar Sari seraya mengapresiasi pendampingan intensif mahasiswa dalam melatih teknik pengoperasian hingga perawatan alat.
Selain menjadi sarana hilirisasi ilmu terapan di bangku kuliah, aksi nyata mahasiswa FTAB UB di Jalan Hamid Rusdi Gang Buntu ini sekaligus mendukung target global Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam penciptaan lapangan kerja yang layak, pertumbuhan inovasi industri kecil, serta pola produksi lokal yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.