BOJONEGORO | JATISATUNEWS.COM: Di tengah berkembangnya beragam pilihan kuliner, makanan tradisional masih memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat. Salah satunya adalah gethuk yang hingga kini masih diproduksi dan dipasarkan oleh pelaku usaha di Desa Trojalu, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro. Melalui usaha ‘Gethuk Jadoel’, Ibu Wati yang merupakan pemilik UMKM berupaya mempertahankan cita rasa tradisional sekaligus mengembangkan usahanya di tengah berbagai keterbatasan.
Gethuk Jadoel merupakan usaha rumahan yang proses produksinya dilakukan di kediaman Ibu Wati, Dusun Karangturi, Desa Trojalu. Sementara itu, produk dijual di jajaran jajanan Taman Gajah Bolong, Baureno. Aktivitas produksi dilakukan secara rutin setiap hari dengan menyesuaikan pesanan dan kebutuhan penjualan.
Mahasiswa Kelompok KKN SDGs 02 Bojonegoro UPN “Veteran” Jawa Timur melakukan observasi terhadap Gethuk Jadoel pada 21 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk mengenali potensi UMKM Desa Trojalu sekaligus memahami kondisi dan kebutuhan pelaku usaha secara langsung.
Mempertahankan Gethuk dengan Proses Produksi Harian –Proses pembuatan Gethuk Jadoel membutuhkan waktu yang cukup panjang. Produksi dilakukan sejak malam hingga pagi hari dan dilanjutkan pada pagi hari sembari melayani pesanan yang masuk. Singkong menjadi bahan utama dalam pembuatan gethuk, dengan bahan pelengkap seperti kelapa parut dan gula merah.
Sekitar pukul 14.00, gethuk yang telah diproduksi mulai matang dan dipersiapkan untuk penjualan pada sore hari. Gethuk Jadoel kemudian mulai dipasarkan sekitar pukul 16.00 setiap harinya apabila tidak terdapat kendala dalam proses produksi maupun penjualan. Selain pembelian langsung di lokasi penjualan, Ibu Wati juga melayani pesanan melalui WhatsApp yang dapat diambil langsung di rumah produksi di Dusun Karangturi. Gethuk Jadoel juga menerima pesanan dalam bentuk tumpeng gethuk untuk kebutuhan tertentu.
Beragam jenis gethuk yang ditawarkan juga memiliki bentuk pengemasan yang disesuaikan. Beberapa produk menggunakan daun pisang sebagai pembungkus, sedangkan produk untuk penjualan dikemas menggunakan mika dan plastik yang aman untuk makanan. Gethuk Jadoel juga telah memiliki logo dan banner sebagai identitas usaha.

Sumber: Dokumentasi Kelompok KKN SDGs 02 Bojonegoro, diambil tanggal 21 Juli 2026
Keterbatasan Pemasaran Menjadi Tantangan – Di balik konsistensi produksi tersebut, Gethuk Jadoel masih menghadapi kendala dalam memperluas pemasaran. Produk yang dibuat tanpa bahan pengawet memiliki daya simpan yang terbatas sehingga belum memungkinkan untuk dipasarkan secara luas dalam jangkauan yang lebih jauh. Saat ini, pemasaran dilakukan melalui penjualan langsung di lokasi, pesanan melalui WhatsApp, serta pesanan tertentu seperti tumpeng gethuk.
Selain karakteristik produk, keterbatasan tenaga kerja juga menjadi salah satu hambatan. Gethuk Jadoel masih dikelola secara mandiri oleh Ibu Wati. Kondisi tersebut membuat pengembangan pemasaran melalui platform daring yang lebih luas belum menjadi pilihan utama. Penguasaan teknologi pemasaran serta keterbatasan perangkat menjadi pertimbangan tersendiri bagi pemilik usaha.
Meski demikian, Ibu Wati memiliki harapan agar Gethuk Jadoel dapat semakin dikenal masyarakat. Ia juga berharap dapat melakukan rebranding terhadap usahanya serta memiliki lokasi yang lebih mudah ditemukan. Keberadaan ulasan dari pelanggan juga diharapkan dapat membantu masyarakat mengenal produk yang ditawarkan.

Sumber: Dokumentasi Kelompok KKN SDGs 02 Bojonegoro, diambil tanggal 21 Juli 2026
KKN SDGs 02 Bojonegoro Hadir melalui Pendampingan Sesuai Kebutuhan UMKM – Hasil observasi tersebut kemudian menjadi dasar bagi mahasiswa Kelompok KKN SDGs 02 Bojonegoro dalam menentukan bentuk pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan Gethuk Jadoel. Pendampingan tidak diarahkan pada pemasaran melalui marketplace, melainkan pada langkah-langkah yang dapat membantu memperkuat identitas dan memperkenalkan usaha kepada masyarakat.

Sumber: Dokumentasi Kelompok KKN SDGs 02 Bojonegoro, diambil tanggal 28 Juli 2026
Mahasiswa membantu melakukan rebranding logo Gethuk Jadoel sebagai upaya memperkuat identitas produk. Pembaruan tersebut tetap mempertahankan karakter usaha sebagai produk makanan tradisional sehingga identitas baru tidak menghilangkan unsur “jadoel” yang menjadi ciri khasnya.
Selain itu, mahasiswa membantu membuat titik lokasi Gethuk Jadoel pada Google Maps. Sebelumnya, usaha tersebut belum memiliki titik koordinat yang dapat digunakan masyarakat untuk menemukan lokasi dengan lebih mudah. Keberadaan titik lokasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat maupun calon konsumen mengenali keberadaan usaha Gethuk Jadoel.
Pendampingan juga dilakukan melalui pengenalan usaha kepada masyarakat dengan memanfaatkan ulasan Google Maps dan pembuatan video profil UMKM. Video profil tersebut menjadi media untuk memperkenalkan produk, proses usaha, serta cerita di balik Gethuk Jadoel kepada masyarakat secara lebih menarik.
Berikut Link Video Profil UMKM ‘Gethuk Jadoel’ oleh Kelompok KKN SDGs 02 Bojonegoro, UPN “Veteran” Jawa Timur: https://www.instagram.com/reel/DbzcXvfzRI1/?igsh=MTBvZGo3eWczMnU0NA==&igsi=MTBvZGo3eWczMnU0NA==
Kegiatan observasi dan pendampingan Gethuk Jadoel menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak selalu harus dilakukan melalui perubahan besar. Bagi usaha rumahan yang masih dikelola secara mandiri, dukungan dapat dimulai dari kebutuhan yang sederhana namun relevan, seperti memperkuat identitas produk, memudahkan lokasi usaha ditemukan, serta membantu memperkenalkan produk kepada masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa Kelompok KKN SDGs 02 Bojonegoro berupaya memberikan pendampingan berdasarkan kondisi nyata yang ditemui di lapangan. Gethuk Jadoel menjadi salah satu gambaran potensi kuliner lokal Desa Trojalu yang masih terus dipertahankan melalui proses produksi setiap hari.
Dengan cita rasa tradisional yang tetap dijaga dan identitas usaha yang mulai diperkuat, Gethuk Jadoel diharapkan dapat semakin dikenal oleh masyarakat tanpa kehilangan karakter sebagai jajanan tradisional yang menjadi bagian dari potensi kuliner lokal Desa Trojalu.
Penulis : Mahasiswa KKN SDGs 02 Bojonegoro, UPN “Veteran” Jawa Timur

