LUMAJANG|JATIMSATUNEWS.COM: Di tengah kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lumajang, sebuah fasilitas tempat cuci dan mandi umum berdiri di belakang rumah Kepala Desa Padang, Kecamatan Padang. Fasilitas itu bukan dibangun dengan dana desa, melainkan murni dari kocek pribadi sang kepala desa, Ahmad (40).
Pria yang akrab disapa Ahmad itu mengaku membangun fasilitas tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya saat masih muda. Dulu, ia dan warga Desa Kedawung harus mencuci ke sungai milik desa lain karena desa mereka sangat kekurangan air bersih, bahkan sejak bertahun-tahun lalu.
Baca juga: Kepala Desa Cibinong Dukung Pembangunan SMA Kemala Taruna Bhayangkara
Baca juga: BPD Kawisrejo dan Tokoh Masyarakat Sepakati Permohonan Penahanan Kepala Desa Nanang Qosim
“Saya membuat tempat seperti ini, dulu juga pernah teringat mas, waktu saya masih ada di Kedawung, saya mencuci itu harus ke sungai desa lain mas, karena sejak dulu Desa Kedawung sulit air. Yang bikin tidak enak kalau kita sering-sering cuci di sungai orang, kadang bahasanya didengar tidak enak, tapi kita maklum dengan bahasa seperti itu mas, karena kalau jam sore, seolah yang punya sungai tidak kebagian,” tutur Ahmad sambil tertawa.
Pembangunan fasilitas tersebut menelan biaya kurang lebih Rp100 juta dari dana pribadi Ahmad. Sebelumnya, tepi sungai di lokasi itu tidak rata dan harus diratakan dengan ratusan truk tanah urukan. Kini, lokasi itu telah menjadi tempat cuci dan mandi yang nyaman, lengkap dengan area parkir luas dan keamanan sepeda yang terpantau karena berada tak jauh dari rumah kepala desa.
Sejak fasilitas itu berdiri, warga dari berbagai desa yang kekurangan air seperti Desa Gucialit, Kedawung, Wonokerto, dan desa lainnya berdatangan untuk mencuci dan mandi. Salah satunya Deni (37), warga desa lain yang tengah mengantar istrinya mencuci.
“Saya sangat berterima kasih mas ke Kepala Desa Ahmad, semenjak adanya pembangunan tempat ini, kita lebih nyaman, tempat parkir luas, keamanan sepeda sangat terpantau. Semoga beliau sehat selalu dan lancar segala urusannya,” ujar Deni.
Rencana Usaha Air Bersih dan Dua Titik Baru
Menurut seorang mandor pegawai yang enggan disebut namanya, pembangunan fasilitas ini sebenarnya direncanakan untuk usaha air bersih isi ulang, lantaran ditemukan pH air 7,2 di lokasi tersebut. Bahkan, ada wacana untuk mengembangkannya menjadi tempat wisata.
“Sebenarnya mas, pembangunan ini kepala desa rencananya untuk usaha air bersih isi ulang mas, juga di wacana untuk bikin wisata, lah kok dikrasani warga nyuci, itu juga yang banyak dari desa lain mas,” tuturnya.
Namun, alih-alih melarang, Ahmad justru membiarkan warga memanfaatkan fasilitas itu. Bahkan, ke depan ia berencana membangun dua titik serupa, yakni di belakang kecamatan dan di belakang SDN setempat.
“Dari sungai ini mas nanti rencananya dibikin usaha air bersih karena pH-nya ketemu 7,2, dan saya juga mau membentuk tempat seperti ini khususnya nyuci dan mandi, rencananya ada dua titik mas, di belakang kecamatan juga di belakang sekolahan SDN,” ujar Ahmad.
Sosok Pengusaha Sukses yang Tak Lagi Mencalonkan Diri
Sebelum menjabat sebagai kepala desa, Ahmad dikenal sebagai pengusaha sukses dengan belasan titik usaha. Namun, sejak menjadi kepala desa, usaha miliknya menyusut menjadi tinggal tujuh titik menunjukkan besarnya perhatian dan pengorbanannya untuk mengabdi kepada masyarakat.
Meski memiliki jiwa sosial tinggi dan kepemimpinan yang bisa dipertanggungjawabkan, Ahmad memastikan tidak akan mencalonkan diri lagi pada periode mendatang dengan alasan tertentu. Keputusan itu tentu disayangkan banyak pihak, mengingat besarnya manfaat yang telah ia berikan.
Harapan Kecemburuan Sehat
Kisah Kepala Desa Ahmad menjadi contoh nyata kepemimpinan yang berangkat dari empati dan pengalaman pribadi. Fasilitas cuci dan mandi gratis yang ia bangun tidak hanya membantu warga Desa Padang, tetapi juga warga desa lain yang selama bertahun-tahun kesulitan air bersih, terlebih di musim kemarau panjang seperti sekarang.
Semoga jiwa sosial seperti Kepala Desa Ahmad ini menjadikan kecemburuan yang sehat bagi pemimpin-pemimpin lainnya, sehingga semakin banyak pejabat yang tergerak untuk turun tangan langsung membantu masyarakat.(Puj)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.