SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Momentum peringatan Hari Kereta Api Nasional ke-81 dimanfaatkan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, untuk mengajak seluruh pemangku kepentingan perkeretaapian terus berbenah. Ia menekankan bahwa peningkatan kualitas pelayanan publik harus senantiasa berjalan beriringan dengan penguatan aspek keselamatan perjalanan rel di Jawa Timur.
Di hadapan para insan perkeretaapian, Gubernur Khofifah menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi mendalam atas pengabdian tanpa henti para petugas di lapangan. Ia menyebut kereta api kini kian krusial dalam menghubungkan simpul perekonomian, sarana pendidikan, hingga destinasi wisata antarwilayah.
“Mari terus meningkatkan pelayanan agar setiap perjalanan menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat,” ujar Khofifah penuh harap pada Senin (28/9/2026).
Berdasarkan laporan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, bentang rel di wilayah Jatim kini mencapai 1.525 kilometer dengan rincian 910 kilometer jalur aktif dan 615 kilometer nonaktif, yang melintasi sebanyak 123 stasiun. Jalur strategis ini menopang sedikitnya 138 perjalanan kereta reguler per hari, meliputi 40 rute di Daop 7 Madiun, 80 rute di Daop 8 Surabaya, serta 18 rute di Daop 9 Jember.
Menanggapi mobilitas yang padat tersebut, Khofifah mengingatkan agar kenyamanan seluruh elemen masyarakat dipenuhi secara merata tanpa terkecuali.
“Pelayanan yang semakin baik harus dirasakan oleh semua penumpang, termasuk anak-anak, lanjut usia, dan penyandang disabilitas. Kemudahan akses serta kenyamanan di stasiun dan selama perjalanan perlu terus menjadi perhatian bersama,” tuturnya.
Keseriusan pembenahan layanan berbasis rel tersebut juga diarahkan pada mega proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang digadang-gadang mengadopsi moda Kereta Rel Listrik (KRL).
Pada tahap awal Fase 1A lintas Sidoarjo–Gubeng dan Depo Sidotopo sepanjang 30 kilometer, proses Detail Engineering Design (DED) ditargetkan rampung pada triwulan pertama tahun 2027, yang kemudian disusul tender konstruksi dan elektrifikasi di pertengahan 2027. Proyek ini kelak merevitalisasi Stasiun Surabaya Gubeng, Wonokromo, Waru, Gedangan, hingga Sidoarjo, sekaligus menghadirkan tiga flyover baru di ruas Ambengan, Bung Tomo, dan Pahlawan Sidoarjo guna mengurai kemacetan.
Di balik geliat ekspansi rel perkotaan, Khofifah menegaskan bahwa kerawanan perlintasan sebidang tetap menjadi pekerjaan rumah prioritas. Data Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya mencatat ada 999 titik perlintasan di Jatim, di mana 182 titik berizin tercatat belum dijaga, di samping 83 titik liar tak terdaftar yang berisiko memicu kecelakaan lalu lintas.
“Keselamatan harus menjadi prioritas dalam setiap pengembangan layanan kereta api. Pengamanan perlintasan membutuhkan koordinasi yang kuat, kesiapan petugas, serta kepatuhan masyarakat terhadap rambu dan ketentuan keselamatan,” tegas mantan Menteri Sosial tersebut.
Meski Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah sukses membangun 132 pos jaga dan palang pintu rel di 22 daerah sepanjang periode 2023–2025—yang sempat mengganjarnya rekor MURI—Khofifah mengingatkan fasilitas tersebut tidak akan berfungsi optimal tanpa pemeliharaan rutin dan kesiagaan personel.
Ia pun berpesan agar warga tidak pernah sekali pun nekat menerobos palang pintu serta senantiasa mematuhi rambu perlintasan demi keselamatan bersama.
Di samping itu, integrasi fisik antarmoda juga terus didorong agar perpindahan penumpang dari angkutan kota ke kereta berlangsung mulus.
Menutup keterangannya, Khofifah menitipkan pesan hangat kepada seluruh masinis, petugas sinyal, penjaga pos perlintasan, hingga staf operasional stasiun.
“Teruslah melayani dengan sepenuh hati. Semoga perkeretaapian Indonesia semakin maju dan semakin melayani, mempererat konektivitas antardaerah, serta membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.