CANBERRA | JATIMSATUNEWS.COM: Isu masa depan Islam dan dinamika sosial di Indonesia kembali menjadi sorotan akademisi global. Melalui forum akademik internasional bertajuk International Colloquium on the Future of Indonesian Islam, para peneliti dari berbagai disiplin ilmu berkumpul di Australian National University (ANU), Canberra, Australia, pada Kamis (17/9/2026).
Kegiatan ini merupakan agenda side event dari Indonesia Update 2026, perhelatan tahunan bergengsi yang rutin digelar ANU untuk membedah perkembangan isu-isu strategis seputar Indonesia.
Kolokium tersebut diinisiasi oleh pakar kajian Islam sekaligus dosen senior Antropologi di ANU, Dr. Eva F. Khoirunnisa, yang bertindak sebagai convener bersama Dr. Farid F. Saenong, M.A., Ph.D., dosen Fakultas Studi Islam Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).
Menatap Islam dari Kacamata Insider dan Outsider
Kehadiran para akademisi perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) asal Indonesia memberi warna tersendiri dalam forum ini. Dua dosen perempuan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, yakni Dr. Jamilah, M.A. dan Dr. Devi Pramitha, M.Pd.I., turut ambil bagian sebagai pemapar riset.
Keduanya mempresentasikan temuan terbarunya mengenai negosiasi kesetaraan gender dalam kehidupan perkawinan masyarakat muslim di Jawa Timur. Riset ini menyoroti bagaimana perempuan muslim Jawa Timur memaknai peran gender yang memiliki corak kultural tersendiri dan tidak selalu seragam dengan komunitas muslim di wilayah lain di Nusantara.
Paparan tersebut menegaskan bahwa kajian kesetaraan gender kian dinamis, berkembang pesat baik dalam tataran diskursus teori maupun praktik lintas budaya di Indonesia.
Bagi Jamilah dan Devi, partisipasi ini memberikan pengalaman intelektual yang berharga. Kolokium di Canberra ini menjadi ruang dialog untuk merefleksikan bagaimana Indonesia dipersepsikan, dimaknai, dan dikaji secara bersamaan oleh dua sudut pandang: insider (pengamat dari dalam negeri) dan outsider (peneliti luar negeri).
Menghargai Keragaman dan Kohesi Bangsa
Pertemuan antarperspektif ini dinilai menawarkan lensa analisis yang krusial dalam membaca realitas Indonesia kontemporer.
Lanskap sosial, budaya, dan keagamaan Indonesia yang sangat majemuk membuktikan bahwa dinamika Islam di Tanah Air tidak dapat disederhanakan lewat satu tafsir tunggal atau pendekatan satu dimensi.
Perbedaan posisi geografis, latar belakang budaya, hingga metodologi keilmuan justru memperkaya khazanah keilmuan tentang wajah Islam Indonesia masa kini dan masa depan.
Lebih jauh, forum internasional di ANU ini meneguhkan apresiasi terhadap ketahanan kohesi nasional Indonesia. Kemampuan bangsa Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah heterogenitas etnis, bahasa, politik, dan geografis merupakan fenomena unik yang terus memikat perhatian para sarjana di panggung dunia.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.