Dalam sambutannya mewakili Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Wagub Emil mengapresiasi ogoh-ogoh yang dibuat oleh putra-putri asli Tosari. Yakni kreativitas masyarakat ini sangat luar biasa. Menurutnya ogoh-ogoh ini juga menjadi bukti keteguhan hati, bahwa meskipun dibuat dengan penuh kreativitas tapi harus tetap dibakar sebagai rangkaian proses ibadah Nyepi.
“Inilah kreatifitas putra-putri Tengger yang ada di Tosari. Saya membayangkan ini bisa jadi ada Festival yang kemudian menjadi salah satu andalan karena di dalamnya juga ada unsur budaya. Ditambah alam disini juga indah. Harapan saya ini bisa menjadi daya tarik wisata yang luar biasa,” katanya.
“Dari perenungan dan pencarian diri yang mendalam, umat Hindu dapat menyalakan semangat baru, melangkah ke depan, dan membangun hari esok yang lebih baik. Sekaligus menata perbuatan, perkataan, dan pikiran yang baik, menjadi tiga perbuatan yang suci dan bersih atau Tri Kaya Parisudha. Sebagaimana yang diyakini oleh saudara- saudara umat Hindu,” kata Emil.
“Hari Raya Nyepi juga mengingatkan untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta, termasuk makhluk-makhluk lainnya,” imbuhnya.
“Dimana mereka ikut mendukung terlaksananya hari suci Nyepi dengan syahdu diantaranya adalah membatasi kegiatan. Bahkan listriknya juga disesuaikan. Tidak salah kalau dikatakan ini wilayah Bhinneka Tunggal Ika. Dan ini menjadi sebuah energi positif bagi kita semua,” katanya.
“Yang mendukung adalah alamnya yang sangat indah, sejuk dan alam yang luar biasa dalam akses menuju ke pusat pariwisata di Bromo. Dan ini yang harus terus kita kembangkan,” katanya.
“Kita perlu mendorong agar kalau orang ingat Bromo juga ingat terus sama Tosari. Apalagi kalau pariwisata kita bicara destinasi tujuannya, dari mana wisatawannya dan waktunya. Dan acara Pawai Ogoh-Ogoh ini bisa menjadi daya tarik yang luar yang dibuka untuk umum,” katanya.
“Maka kita tentunya harus segera merespon. Kalau ada aspirasi misal jalan provinsi titik-titik tertentu yang harus bisa ditangani atau diperkuat agar lebih tahan daripada longsor, termasuk membangun drainase. Karena kalau airnya masuk ke badan jalan, jalannya ambles. Jadi airnya harus dikasih Jalan atau drainasenya,” katanya.
“Oleh karena itu kami mohon doa restunya agar ikhtiar ini bisa terus kita lanjutkan untuk memajukan kesejahteraan di sini. Saya terbayang bahwa mungkin kalau orang ke Bromo tidak lagi harus selalu ke lautan pasir tapi menikmati suguhan-suguhan yang ada di wilayah sini ya. Kemudian salah satu cita-cita besar yakni membangun Tengger culture center atau pusat budaya Tengger,” imbuhnya
“Salam hormat dan salam bahagia kepada seluruh umat Hindu yang ada di Jawa Timur dan Indonesia. Semoga di hari yang mulia ini umat Hindu senantiasa berada dalam lindungan Tuhan dan menjalani kehidupan yang damai rukun dan sejahtera,” katanya.


