SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Gangguan pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akibat eskalasi militer di kawasan Teluk memicu lonjakan permintaan urea Australia kepada Indonesia. Terhambatnya rantai pasok pupuk dari Timur Tengah mendorong harga urea di pasar internasional melambung. Kondisi ini memaksa para importir serta asosiasi pertanian Australia mencari pasokan alternatif dari produsen agrokimia nasional Indonesia demi mengamankan musim tanam raya dari ancaman gagal panen. Situasi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan Australia di bidang pangan dan pertanian. Krisis yang melanda Negeri Kanguru justru menjadi momentum untuk mempererat hubungan dagang kedua negara, sekaligus menegaskan peran Indonesia sebagai pemasok pupuk yang andal di kawasan.
Selat Hormuz selama ini menjadi arteri vital distribusi energi dan bahan baku agrokimia dari produsen Timur Tengah menuju kawasan Indo-Pasifik. Konflik bersenjata di wilayah Teluk menaikkan biaya asuransi risiko perang bagi kapal pengangkut dan memaksa kapal kargo menempuh rute memutar yang memakan waktu berminggu-minggu lebih lama. Bagi Australia, gangguan ini terjadi menjelang jadwal pemupukan gandum dan kanola. Kenaikan harga urea di pelabuhan utama seperti Fremantle dan Melbourne mengancam kalkulasi usaha tani. Karena kalender tanam tidak dapat ditunda, pelaku agrikultur Australia mengamankan pasokan dari Indonesia sebagai sumber alternatif terdekat.
Pengalihan ini dapat dibaca melalui kerangka kerja sama internasional Axelrod dan Keohane (1985). Menurut keduanya, kerja sama dalam sistem internasional yang anarkis lebih mungkin terwujud apabila tiga kondisi terpenuhi seperti, kesamaan kepentingan (mutuality of interest), bayang-bayang masa depan (the shadow of the future), dan jumlah aktor yang sedikit. Institusi serta rezim yang mapan memperkuat ketiganya.
Pertama, krisis mengubah matriks keuntungan kedua negara. Australia menghadapi risiko gagal tanam, sementara Indonesia memiliki kapasitas cadangan. PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatat target produksi urea 2026 sebesar 7,8 juta ton, sedangkan kebutuhan domestik diperkirakan 6,3 juta ton. Kedua, hubungan ini bersifat berulang (iterated game), bukan transaksi sesaat. Pasokan pupuk bagi petani Australia berkaitan dengan kelancaran impor gandum dan daging sapi Indonesia dari Australia. Ketiga, interaksi ini hanya melibatkan dua pemerintah melalui skema Government-to-Government, sehingga pemantauan dan penegakan komitmen lebih mudah.
Berlangsungnya ekspor urea merupakan tindak lanjut kesepakatan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Anthony Albanese. Dalam pertemuan di Jakarta pada 6 Februari 2026, Presiden Prabowo menempatkan pertanian sebagai salah satu pilar kemitraan strategis kedua negara. Indonesia tetap menetapkan batas kebijakan, oleh Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyatakan bahwa arahan Presiden merupakan pemenuhan kebutuhan pupuk petani dalam negeri terlebih dahulu. Hingga 22 Juni 2026, stok pupuk bersubsidi tercatat 1,23 juta ton.
Kerja sama perdagangan ini telah berjalan melalui kapal MV Medi Luna dari Bontang, menuju Pelabuhan Brisbane pada pertengahan Mei hingga 22 Juni 2026, membawa 47.250 ton urea. Pengapalan perdana ini mengawali target ekspor bertahap sebesar 250.000 ton hingga penghujung 2026. Merujuk data Duta Besar RI untuk Australia, Siswo Pramono, total konsumsi urea Australia berada di angka 3,7 juta ton per tahun. Kontribusi Indonesia yang mencakup sekitar 7 persen kebutuhan nasional Australia berfungsi sebagai pasokan alternatif yang krusial, meskipun belum menggantikan keseluruhan volume impor dari Timur Tengah.
Kasus ini menunjukkan bahwa ketika jalur pasokan global terganggu konflik, kerja sama bilateral yang bertumpu pada kepentingan timbal balik, relasi jangka panjang, serta kerangka institusional dapat menjadi peredam guncangan bagi ketahanan pangan kawasan di Australia.
Penulis : Sonia Icha Ardilla Mahasiswa Hubungan Internasional, UPN “Veteran” Jawa Timur


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.