Langsung ke konten
Selasa, 20 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Tanamkan Nasionalisme dan Cegah Bullying, Kesbangpol dan Polresta Malang Kota Edukasi 900 Siswa SMKN 4

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya menanamkan rasa cinta tanah air sekaligus mencegah perundungan atau bullying di kalangan pelajar terus diperkuat. Badan

Kabid Iwasbang Kota Sukristyono Apriyodarmo, S.Sos., M.AP.

Kabid Iwasbang Kota Sukristyono Apriyodarmo, S.Sos., M.AP. (Foto: Dok.pri Anis Hidayatie)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya menanamkan rasa cinta tanah air sekaligus mencegah perundungan atau bullying di kalangan pelajar terus diperkuat. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) bersama Polresta Malang Kota memberikan sosialisasi wawasan kebangsaan dan anti-bullying kepada sekitar 900 siswa kelas XI SMK Negeri 4 Kota Malang.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa (20/10/2026) tersebut menjadi bagian dari edukasi kepada generasi muda mengenai pentingnya nasionalisme, pengamalan nilai-nilai Pancasila, toleransi, serta pemahaman terhadap berbagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah maupun media sosial.

Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan tidak hanya memahami wawasan kebangsaan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menghormati perbedaan, menjaga persatuan, dan membangun lingkungan sekolah yang aman serta ramah terhadap anak.

Baca juga: DPRD Kota Malang, H. Rokhmad S.Sos Hadiri Visitasi Kompolnas Award 2026, Dorong Polresta Malang Kota Raih Predikat Terbaik

Baca juga: Gandeng Polresta Malang Kota, Ratusan Murid MAN 2 Diedukasi Bijak Gunakan Kecerdasan Buatan

Kabid Iwasbang Bakesbangpol Kota Malang, Sukristyono Apriyodarmo, S.Sos., M.AP. menyampaikan bahwa penanaman rasa cinta tanah air perlu dilakukan sejak dini, mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini hingga pendidikan menengah.

Menurutnya, pelajar SMK merupakan bagian penting dari generasi penerus bangsa yang kelak akan berperan dalam pembangunan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.

“Anak-anak ini harus disiapkan betul agar rasa cinta tanah airnya kuat dan memiliki semangat bela negara. Negara kita sangat beragam, sehingga mereka perlu dibekali jiwa nasionalisme, nilai-nilai Pancasila, sikap toleransi, dan kemampuan saling menghargai,” ungkapnya.

Ia menegaskan, penguatan wawasan kebangsaan menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi yang diterima generasi muda. Pemahaman yang baik mengenai kebangsaan diharapkan mampu membentuk karakter pelajar agar tidak mudah terpengaruh informasi yang bertentangan dengan nilai persatuan dan kebangsaan.

Kesbangpol juga menyebut kegiatan serupa dilaksanakan secara rutin di berbagai lembaga pendidikan. Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan semangat kebangsaan kepada generasi muda.

Polresta Malang Kota Tekankan Bahaya Kekerasan terhadap Anak

Selain materi wawasan kebangsaan, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari Polresta Malang Kota untuk memberikan edukasi mengenai kekerasan terhadap anak dan pencegahan perundungan.

KBO Satreskrim Polresta Malang Kota, Putra Wicaksono, menjelaskan bahwa edukasi tersebut menyasar pelajar usia sekolah menengah yang sebagian besar masih berusia di bawah 18 tahun.

Dalam penyampaiannya, ia menguraikan sejumlah bentuk kekerasan yang perlu dikenali para siswa, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan sosial, hingga kekerasan melalui media sosial atau cyberbullying.

Menurutnya, perundungan tidak selalu berbentuk tindakan fisik. Perkataan yang merendahkan, penghinaan, pengucilan dari pergaulan, serta penyebaran konten yang mempermalukan seseorang di media sosial juga dapat menimbulkan dampak serius bagi korban.

Karena itu, para siswa diharapkan mampu mengenali berbagai bentuk kekerasan, tidak melakukan tindakan perundungan, serta berani mencari bantuan apabila mengalami atau menyaksikan kejadian serupa.

Putra juga berpesan agar para pelajar tetap fokus dalam menggapai cita-cita dan tidak membiarkan perilaku negatif menghambat masa depan mereka.

“Fokuslah dalam menggapai cita-cita. Semua pasti mempunyai cita-cita. Berusaha dan berdoa tidak akan mengkhianati hasilnya,” pesannya.

Iklan

Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan pengamatannya, kasus kekerasan terhadap anak di Kota Malang menunjukkan kecenderungan menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, edukasi dan pencegahan tetap perlu dilakukan agar lingkungan pendidikan semakin aman bagi anak.

Sekolah Dorong Edukasi Berkelanjutan dan Pembelajaran Interaktif

Kepala Sekolah SMKN 4 Kota Malang, Gunawan, menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Ia menilai edukasi yang melibatkan instansi berwenang sangat dibutuhkan untuk menambah literasi dan pengetahuan siswa mengenai kekerasan serta perundungan di lingkungan pendidikan.

Menurut Gunawan, kasus kekerasan dan perundungan dapat terjadi di berbagai sekolah, baik negeri maupun swasta. Sebagian kasus dapat teridentifikasi, sedangkan sebagian lainnya berpotensi tidak terungkap apabila korban takut melapor atau tidak mengetahui langkah yang harus dilakukan.

Karena itu, pihak sekolah memandang penting adanya kerja sama dengan instansi terkait untuk memberikan pemahaman yang lebih luas kepada siswa maupun guru.

Gunawan juga menyoroti tantangan penanaman wawasan kebangsaan di tengah derasnya arus informasi dari media sosial. Informasi yang melimpah, termasuk berita yang belum tentu benar atau disampaikan dari sudut pandang tertentu, dapat memengaruhi cara berpikir pelajar.

“Anak-anak mendapatkan informasi yang sangat melimpah dari media sosial. Hal-hal baik yang sudah ditanamkan sebagai dasar bisa luntur karena banyaknya informasi baru. Karena itu, mereka perlu dibekali kemampuan memahami informasi dan menentukan sikap secara tepat,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembentukan karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui metode ceramah. Guru perlu menghadirkan pembelajaran interaktif, seperti pemberian studi kasus, diskusi kelompok, dan presentasi, agar siswa terbiasa menyampaikan pendapat sekaligus menghargai pandangan orang lain.

Melalui metode tersebut, siswa dapat belajar menyelesaikan perbedaan pendapat secara dewasa, membangun sikap saling menghormati, dan memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk merendahkan orang lain.

Pendidikan karakter juga terus diperkuat melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) serta pendidikan agama, yang berperan membentuk sikap siswa terhadap diri sendiri, sesama, dan kehidupan berbangsa.

SMKN 4 Siapkan Layanan Pengaduan Kekerasan

Sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, SMKN 4 Kota Malang juga menekankan pentingnya saluran pengaduan bagi siswa yang mengalami atau mengetahui adanya kekerasan maupun perundungan.

Pihak sekolah menyatakan kesiapan untuk membuka layanan pengaduan atau hotline service dengan tetap memperhatikan kerahasiaan pelapor.

Keberadaan saluran tersebut diharapkan dapat membantu siswa merasa lebih aman untuk menyampaikan permasalahan tanpa takut identitasnya diketahui pihak yang tidak berkepentingan.

Gunawan menilai kegiatan edukasi semacam ini idealnya dilaksanakan secara berulang, setidaknya satu kali dalam setahun. Hal itu diperlukan karena setiap tahun sekolah menerima siswa baru yang membutuhkan penguatan pemahaman mengenai kebangsaan, toleransi, dan pencegahan kekerasan.

Ia berharap kolaborasi antara sekolah, Kesbangpol, kepolisian, serta pihak terkait lainnya dapat terus berlanjut sehingga pesan yang disampaikan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan dalam kehidupan sekolah.

Melalui sinergi tersebut, SMKN 4 Kota Malang diharapkan semakin mampu membangun budaya sekolah yang menjunjung tinggi nilai Pancasila, menghormati keberagaman, menolak segala bentuk perundungan, dan memberikan ruang aman bagi seluruh siswa untuk belajar serta mengembangkan potensi diri.

Iklan

Sosialisasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa membangun generasi Indonesia Emas 2045 tidak hanya berkaitan dengan kecakapan akademik dan keterampilan kerja, tetapi juga membutuhkan karakter yang kuat, rasa cinta tanah air, kepedulian sosial, serta keberanian untuk menolak kekerasan dalam bentuk apa pun.

Kabid Iwasbang Sukris dialog dengan peserta sosialisasi
Kabid Iwasbang Sukris dialog dengan peserta sosialisasi (Foto: Dok. Istimewa Anis Hidayatie)
Kepala SMAN , Kabid Iwasbang, KBO Polresta
Kepala SMAN , Kabid Iwasbang, KBO Polresta (Foto: Dok. Istimewa Anis Hidayatie)

Kesbangpol juga menyebut kegiatan serupa dilaksanakan secara rutin di berbagai lembaga pendidikan. Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan semangat kebangsaan kepada generasi muda.

Polresta Malang Kota Tekankan Bahaya Kekerasan terhadap Anak

Selain materi wawasan kebangsaan, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari Polresta Malang Kota untuk memberikan edukasi mengenai kekerasan terhadap anak dan pencegahan perundungan.

KBO Satreskrim Polresta Malang Kota, Putra Wicaksono, menjelaskan bahwa edukasi tersebut menyasar pelajar usia sekolah menengah yang sebagian besar masih berusia di bawah 18 tahun.

Dalam penyampaiannya, ia menguraikan sejumlah bentuk kekerasan yang perlu dikenali para siswa, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan sosial, hingga kekerasan melalui media sosial atau cyberbullying.

Menurutnya, perundungan tidak selalu berbentuk tindakan fisik. Perkataan yang merendahkan, penghinaan, pengucilan dari pergaulan, serta penyebaran konten yang mempermalukan seseorang di media sosial juga dapat menimbulkan dampak serius bagi korban.

Karena itu, para siswa diharapkan mampu mengenali berbagai bentuk kekerasan, tidak melakukan tindakan perundungan, serta berani mencari bantuan apabila mengalami atau menyaksikan kejadian serupa.

Putra juga berpesan agar para pelajar tetap fokus dalam menggapai cita-cita dan tidak membiarkan perilaku negatif menghambat masa depan mereka.

“Fokuslah dalam menggapai cita-cita. Semua pasti mempunyai cita-cita. Berusaha dan berdoa tidak akan mengkhianati hasilnya,” pesannya.

Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan pengamatannya, kasus kekerasan terhadap anak di Kota Malang menunjukkan kecenderungan menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, edukasi dan pencegahan tetap perlu dilakukan agar lingkungan pendidikan semakin aman bagi anak.

Sekolah Dorong Edukasi Berkelanjutan dan Pembelajaran Interaktif

Kepala Sekolah SMKN 4 Kota Malang, Gunawan, menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Ia menilai edukasi yang melibatkan instansi berwenang sangat dibutuhkan untuk menambah literasi dan pengetahuan siswa mengenai kekerasan serta perundungan di lingkungan pendidikan.

Menurut Gunawan, kasus kekerasan dan perundungan dapat terjadi di berbagai sekolah, baik negeri maupun swasta. Sebagian kasus dapat teridentifikasi, sedangkan sebagian lainnya berpotensi tidak terungkap apabila korban takut melapor atau tidak mengetahui langkah yang harus dilakukan.

Karena itu, pihak sekolah memandang penting adanya kerja sama dengan instansi terkait untuk memberikan pemahaman yang lebih luas kepada siswa maupun guru.

Gunawan juga menyoroti tantangan penanaman wawasan kebangsaan di tengah derasnya arus informasi dari media sosial. Informasi yang melimpah, termasuk berita yang belum tentu benar atau disampaikan dari sudut pandang tertentu, dapat memengaruhi cara berpikir pelajar.

Iklan

“Anak-anak mendapatkan informasi yang sangat melimpah dari media sosial. Hal-hal baik yang sudah ditanamkan sebagai dasar bisa luntur karena banyaknya informasi baru. Karena itu, mereka perlu dibekali kemampuan memahami informasi dan menentukan sikap secara tepat,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembentukan karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui metode ceramah. Guru perlu menghadirkan pembelajaran interaktif, seperti pemberian studi kasus, diskusi kelompok, dan presentasi, agar siswa terbiasa menyampaikan pendapat sekaligus menghargai pandangan orang lain.

Melalui metode tersebut, siswa dapat belajar menyelesaikan perbedaan pendapat secara dewasa, membangun sikap saling menghormati, dan memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk merendahkan orang lain.

Pendidikan karakter juga terus diperkuat melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) serta pendidikan agama, yang berperan membentuk sikap siswa terhadap diri sendiri, sesama, dan kehidupan berbangsa.

SMKN 4 Siapkan Layanan Pengaduan Kekerasan

Sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, SMKN 4 Kota Malang juga menekankan pentingnya saluran pengaduan bagi siswa yang mengalami atau mengetahui adanya kekerasan maupun perundungan.

Pihak sekolah menyatakan kesiapan untuk membuka layanan pengaduan atau hotline service dengan tetap memperhatikan kerahasiaan pelapor.

Keberadaan saluran tersebut diharapkan dapat membantu siswa merasa lebih aman untuk menyampaikan permasalahan tanpa takut identitasnya diketahui pihak yang tidak berkepentingan.

Gunawan menilai kegiatan edukasi semacam ini idealnya dilaksanakan secara berulang, setidaknya satu kali dalam setahun. Hal itu diperlukan karena setiap tahun sekolah menerima siswa baru yang membutuhkan penguatan pemahaman mengenai kebangsaan, toleransi, dan pencegahan kekerasan.

Ia berharap kolaborasi antara sekolah, Kesbangpol, kepolisian, serta pihak terkait lainnya dapat terus berlanjut sehingga pesan yang disampaikan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan dalam kehidupan sekolah.

Melalui sinergi tersebut, SMKN 4 Kota Malang diharapkan semakin mampu membangun budaya sekolah yang menjunjung tinggi nilai Pancasila, menghormati keberagaman, menolak segala bentuk perundungan, dan memberikan ruang aman bagi seluruh siswa untuk belajar serta mengembangkan potensi diri.

Sosialisasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa membangun generasi Indonesia Emas 2045 tidak hanya berkaitan dengan kecakapan akademik dan keterampilan kerja, tetapi juga membutuhkan karakter yang kuat, rasa cinta tanah air, kepedulian sosial, serta keberanian untuk menolak kekerasan dalam bentuk apa pun.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.