Banner Iklan

Menghidupkan Al-Qur’an dalam Manajemen Integratif Kampus Ulul Albab: Mewujudkan Kota Malang sebagai Singapore van Java melalui Tri Dharma Kampus

Admin JSN
04 April 2025 | 11.35 WIB Last Updated 2025-04-04T04:35:32Z

 

Oleh: M. Fauzan Zenrif

ARTIKEL|JATIMSATUNEWS.COM - Saya akan memberikan gambaran bagaimana penerapan manajemen intergartif dalam bidang akademik di Kampus UIN Maliki Malang yang memiliki tagline “Kampus Ulul Albab” untuk “Mewujudkan Kota Malang sebagai Singapore van Java melalui Tri Dharma Kampus.” Pada kali ini saya ingin berangkat dari dasar normatif yang dijadikan landasan akademik Kampus Ulul Albab, yakni QS. Alu Imran (2): 189 – 191. Dari rangkaian ayat ini, SDM Kota Malang yang hendak didampingi diharapkan memiliki profil dan identitas sebagai Insan Ulul Albab, yakni:

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (189) إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)

Ayat di atas jika dianalisis dengan menggunakan teori korelasional atau ilmu munasabah dapat kegiatan pembinaan SDM untuk menghasilkan SDM Kota Malang dapat digambarkan :

Dari analisis di atas, ada beberapa kata atau frase kunci dalam tiga ayat di atas. Pertama, bahwa perlu gerakan penyadaran tentang hakikat kepemilikan alam raya, sebagaimana digambarkan dalam kata مُلْكُ dalam ayat ini, dan ada 17 ayat yang menengaskan bahwa Allah swt merupakan pemilik mutlak alam raya. Artinya, semua komunitsa di Kota Malang perlu disadarkan bahwa Allah adalah satu-satunya pemilik, penguasa, dan pengendali seluruh alam semesta, termasuk langit dan bumi. Ayat ini memberikan kesadaran terhadap kekayaan alam dan kekayaan sosial merupakan milik Allah swt. sehingga tidak ada keinginan untuk eksploitsi terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosial.

Sepanjang hasil analisis terhadap مُلْكُ , hanya Nabi Sulaiman yang diberikan kerjaan dengan term مُلْكُ (QS. Al-Baqarah (2):102). Pengetahuan dan kompetensi yang diberikan Allah swt terhadap Sulaiman dijelaskan dalam QS. Al-Anbiya’ (21): 78-81.

Ayat-ayat tersebut mengisahkan tentang dua nabi besar, Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, yang diberikan hikmah dan ilmu oleh Allah dalam memutuskan perkara serta keistimewaan yang mereka miliki. Dalam ayat 78, Allah menceritakan peristiwa ketika Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman menangani suatu perselisihan mengenai ladang yang dirusak oleh ternak. Kata نَفَشَتْ menunjukkan bahwa ternak tersebut merusak ladang pada malam hari tanpa pengawasan. Kedua nabi tersebut memberikan keputusan, tetapi Allah memberikan pemahaman khusus kepada Nabi Sulaiman yang lebih tepat dalam penyelesaiannya. 

Dalam tafsir Ibnu Katsir (774H/1373M), disebutkan bahwa Nabi Dawud awalnya memutuskan agar pemilik ternak memberikan ganti rugi kepada pemilik ladang dengan menyerahkan ternaknya. Namun, Nabi Sulaiman mengusulkan solusi yang lebih adil, yaitu ternak diberikan sementara kepada pemilik ladang hingga ladang itu kembali seperti semula, sementara pemilik ternak harus memperbaiki kerusakan ladang tersebut. Allah mengonfirmasi bahwa pemahaman Sulaiman dalam kasus ini lebih mendalam, namun tetap menegaskan bahwa baik Nabi Dawud maupun Nabi Sulaiman dianugerahi kebijaksanaan dan ilmu.

Pada ayat 79, Allah menunjukkan kemuliaan Nabi Dawud yang diberikan mukjizat luar biasa, yakni gunung dan burung yang bertasbih bersamanya. Hal ini mengindikasikan kedekatannya dengan Allah serta kemampuannya dalam menginspirasi alam untuk tunduk kepada kehendak Ilahi. Ayat 80 menegaskan bahwa Nabi Dawud juga diajarkan keahlian dalam membuat baju besi (لَبُوسٍ) untuk melindungi manusia dari peperangan, yang dalam tafsir Al-Qurtubi (1214-1273M) dikatakan sebagai anugerah teknologi yang Allah berikan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa Islam menghargai ilmu dan keahlian teknis sebagai bagian dari kebijaksanaan yang Allah berikan kepada manusia.

Kemudian dalam ayat 81, Nabi Sulaiman diberikan kendali atas angin yang dapat bergerak dengan cepat sesuai perintahnya menuju tanah yang diberkahi, yang dalam berbagai tafsir, termasuk Tafsir Al-Tabari (839-923M), merujuk kepada wilayah Syam atau Palestina. Keistimewaan ini menunjukkan betapa Nabi Sulaiman diberi kekuasaan luar biasa atas alam sebagai bagian dari mukjizatnya.

Berdasarkan atas kisah tersebut, secara teoritis pengembangan SDM hendaknya ditekankan pada penguasaan terhadap prinsip hikmah dalam kepemimpinan dan keadilan yang relevan dalam berbagai konteks, termasuk dalam hukum dan manajemen. Hal ini sejalan dengan teori Justice Ethics John Rawls (1971), dimana dalam konsep keadilan menekankan pada keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan keseimbangan hak semua pihak dan hasil yang paling adil bagi yang terdampak. Hal ini dicontohkan oleh Nabi Sulaiman dalam mengambil keputusan yang tidak hanya menghukum, tetapi juga memberikan solusi yang konstruktif. Dari perspektif Filsafat Hukum Islam, kisah Sulaiman ini menunjukkan bahwa dalam menyelesaikan sengketa, tidak hanya aturan yang diperhitungkan tetapi juga kebijaksanaan dalam penerapannya, sebagaimana dijelaskan dalam teori Maqāṣid al-Sharī‘ah imam Al-Syatibi (1320-1388M), di mana hukum Islam harus diterapkan dengan memperhatikan kemaslahatan (kebermanfaatan bagi umat).

Selain kompetensi hikmah tersebut, SDM yang hendak dikebangkan diharapkan memiliki kopmetensi pengetahuan dalam memahami potensi alam yang dibarengi dengan kemampuan teknis pemanfaatannya sesuai dengan kebutuhan. Hal ini dapat dipejari dari konteks inovasi dan teknologi, di mana Nabi Dawud dianugerahi keahlian dalam pembuatan baju besi sebagai simbol bahwa ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis adalah bagian dari anugerah Ilahi yang harus dikembangkan demi kesejahteraan manusia. Dalam konteks modern, konsep ini sejalan dengan teori Technology as a Social Instrument-nya Jacques Ellul (1954). J. Ellul menekankan bahwa teknologi harus digunakan untuk kemaslahatan manusia, bukan sekadar alat eksploitasi.

Secara keseluruhan, ayat-ayat tentang Sulaiman ini memberikan pesan penting bahwa keadilan, kebijaksanaan, dan inovasi adalah prinsip utama dalam kehidupan manusia. Pemimpin dalam komunitas harus memiliki pemahaman yang mendalam dalam mengambil keputusan, dan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari anugerah Allah yang harus dimanfaatkan untuk kemajuan bersama. Hal ini untuk menghindari kepemimpinan yang digambarkan dalam QS. Al-Zukhruf (43):51, dimana kata مُلْكُ digunakan untuk menunjukkan pada kesombongan Fir'aun atas kekuasaan dan kekayaannya. Fir'aun dengan sombong mengklaim bahwa kerajaan Mesir sepenuhnya miliknya. Fir’aun menyebut sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, Sungai Nil dan sistem irigasi yang membuat Mesir subur dan makmur. Fir'aun menggunakan kemakmuran dan kekayaannya sebagai bukti kekuasaannya, seolah-olah semua itu hasil usahanya sendiri dan bukan karunia Allah.

Gerakan kedua adalah gerakan pendidikan kemampuan pemahaman terhadap semua indikator (لَآيَاتٍ), potensi udara (cuaca), kekayaan alam, dan perubahan waktu. Gerakan ketiga, perlu gerakan penyadaran bahwa Masyarakat Kota Malang adalah komunitas yang dimaksudkan dalam kata Ulul Albab (أُولُو الْأَلْبَابِ). Indikator profil dan kerpribadian insan أُولُو الْأَلْبَابِ yang digunakan dalam ayat ini merujuk pada beberapa parafrasa dalam ayat lain. Insan أُولُو الْأَلْبَابِ adalah قَوْمٍ يَعْقِلُونَ (komunitas yang memiliki intelektualitas tiggi, QS. Al-Baqarah (2): 164; al-Ra’d (13):4; al-Nahl (16):12); قَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (komunitas yang memiliki keyakinan mendalam, Al-An’am (6):99; al-Nahl (16): 79); لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ (komunitsa yang memiliki kesadaran etis dan taat hukum, Yunus (10):6 ); قَوْمٍ يَسْمَعُونَ (komunitas yang mau mendengarkan saran, pendapat dan keluhan orang lain, Yunus (10): 67 ); قَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (komunitas yang memiliki nalar dan narasi yang baik dan benar, al-Ra’d (13):3); كُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (setiap komunitas yang banyak bersabar dalam menghadapi tantangan, cobaan, sehingga mampu bersyukur atas kebaikan dan keburukan yang dialaminya, Ibrahim (14):5); مُتَوَسِّمِينَ (orang-orang yang memiliki wawasan tajam sehingga dapat mengambil pelajaran dari semua indikator, al-Hijr (15):75 ); dan أُولِي النُّهَى (orang-orang yang memiliki akal sehat sehingga memiliki kebijaksanaan, Thaha (20): 54 dan 128).

Secara aplikatif, gerakan kedua dan ketiga dilaksanakan dalam bentuk gerakan keempat, pembentukan komunitas penggerak spritualitas dan kelima pelaksanaan pelatihan pemahaman terhadap indikator-indikator alam. Semua gerakan tersebut mesti dilakukan dengan menggunakan manajemen integratif, dalam artian dilakukan secara simultan, bukan bergantian atau bergiliran, sampai kemudian menghasilkan komunitas yang memiliki kesadaran dan kepribadian komunitas yang mengatakan: رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّار . Bagaimana teori ini dapat diterapkan atau daplikasi dalam bentuk kegiatan yang riil untuk mewujudkan Kota Malang sebagai Singapore van Java melalui Tri Dharma Kampus Ulul Albab?

(Bersambung)


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menghidupkan Al-Qur’an dalam Manajemen Integratif Kampus Ulul Albab: Mewujudkan Kota Malang sebagai Singapore van Java melalui Tri Dharma Kampus

Trending Now